Sabtu, 05 Januari 2013

Ikan Diskus (Symphisodon spp)

3.16.1 Deskripsi Ikan Diskus
Ikan diskus berasal dari Rio Negro dan perairan tenang Sungai Amazon. Sifatnya omnivora dan gerakannya sangat halus. Ikan inipun terkenal sebagai ’King of Aquarium’. Ikan diskus memiliki fekunditas antara 100-300 butir telur. Ikan ini banyak diminati oleh konsumen ikan hias karena warna serta bentuk tubuh yang indah. Karena itu pula permintaan akan ikan diskus terus berjalan baik untuk pasar lokal maupun ekspor.
Ciri-ciri ikan diskus secara umum antara lain sebagai berikut :
  • Bentuk badan pipih dan seperti lingkaran jika dilihat dari samping.
  • Pola warna disepanjang tubuhnya berupa gari-garis pendek dengan warna garis berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.
Ada empat spesies diskus yang dibudidayakan antara lain Heckel Discus, Brown Discus, Green Discus dan Blue Discus. Suhu yang baik untuk pemeliharaan diskus berkisar 25-30O C. Sementara kisaran kualitas air seperti keasaman (pH) cukup lebar sekitar 5-6, 5 dan kekerasan air lunak antara 3-5O dH.

3.16.2 Pemeliharaan Induk
Usaha Pembenihan. Pemijahan ikan diskus dimulai dengan seleksi induk, dengan ciri-ciri antara lain tidak cacat, sehat, tampak aktif, bentuknya proporsional, ukurannya terbesar diantara kelompok umurnya, gemuk, mulut relatif besar, dan berumur lebih dari setahun. Usaha pembenihan ini dimulai dari pemeliharaan induk untuk mencapai kematangan gonad, kemudian dilanjutkan dengan proses pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva hingga pendederan. Induk ikan diskus dapat dibedakan antara jantan dengan betina berdasarkan tanda-tanda pada tubuhnya (Tabel 3.2).
Tabel 3.2. Perbedaan Induk Jantan dan Induk Betina pada Ikan Diskus
Bagian yang diamati Ikan Jantan Ikan Betina
1. Alat kelamin Runcing Lebar dan bulat
2. Bentuk bibir Bibir atas lebih menonjol Simetris dan sama besar antara bibir atas dan bawah
3. Bentuk hidung Bentuk agak bengkok Bentuk lurus
4. Bentuk sirip dubur Bentuk lurus Bentuk bulat
5. Pola warna Cerah dan menyebar ke seluruh tubuh Sedikit warna pada wajah dan badan

Pemeliharaan calon induk ikan diskus dilakukan dengan mencempurkan ikan jantan dan betina pada satu akuarium ukuran  cm. Induk dibiarkan memilih pasangannya sendiri dalam kelompok calon induk. Bila sudah tampak berpasangan dengan terus berenang bersama maka pasangan induk tersebut dapat dipisahkan dari kelompoknya. Pakan untuk induk dapat berupa pakan alami (cacing darah dan jentik nyamuk) atau pakan buatan pakan seperti pelet khusus untuk diskus.

3.16.2 Pemijahan dan Pemeliharaan Larva
Pemijahan induk dilakukan per pasang pada akuarium ukuran cm. Sarang telur biasanya dibuat dari potongan paralon atau sarang buatan yang terbuat dari tanah liat yang diletakkan di pojok atau tengah akuarium pada posisi berdiri. Seperti halnya ikan lain, induk diskus pun akan membersihkan sarangnyasebelum meletakkan telur-telurnya.
Induk ikan diskus bersifat parental care dimana telur dan larva yang dihasilkannya akan dirawat/diasuh. Sehingga telurnya tidak dapat dipisahkan dari induknya dan dibiarkan menetas dalam wadah pemijahan. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Larva ini akan terus menempel pada induknya hingga berumur seminggu. Biasanya larva akan berenang setelah berumur seminggu. Selanjutnya larva akan ’menyusu’ pada induknya dengan memakan lendir yang terdapat pada tubuh induknya.
Walaupun ikan ini bersifat merawat telur dan anaknya tapi ada juga induk yang memakan telur-telurnya. Sementara larva yang sudah berenang tidak ikut dimakan. Olah karena itu, biasanya peternak memberi sekat untuk membatasi induk dengan telurnya.
Pakan untuk larva ikan diskus berasal dari induknya, namun akan lebih baik lagi jika ditambahkan naupli Artemia atau kutu air saring. Bila larva sudah pisah dari induk, pakannya dapat diganti dengan kutu air besar.  Diskus berumur sebulan atau lebih bisa diberi pakan cacing sutera, cacing darah, jentik nyamuk atau pakan buatan jika ikan sudah dewasa. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari.
Untuk menjaga kualitas air dilakukan pergantian air atau siphon setiap 1-2 hari sekali sebanyak sepertiga atau setengah volume air. Ukuran 4 cm atau berumur sekitar  3 bulan mulai dapat dipanen dan dijual.
Pembesaran ikan diskus umumnya dilakukan di akuarium ukuran cm. Pemberian pakan berupa pakan alami seperti Daphnia (kutu air) dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, minimal 2 hari sekali dilakukan penyiphonan.


3.17 Botia India (Botia lohachata)
3.17.1 Deskripsi Ikan Botia
Ikan Botia India masuk kedalam famili Cobitidae dengan badan yang mirip dengan pesawat jet, dengan mulut yang agak bengkok ke bawah. Badan kompres dengan banyak  garis hitam memotong badan secara melintang. Panjang ikan ini dapat mencapai 10 cm. Mempunyai alat peraba diujung mulutnya untuk mengaduk dasar perairan untuk mencari makan. Ikan dari genus botia umumnya bersifat nocturnal atau bersifat aktif pada malam hari. Botia hidup di dasar perairan dan suka bersembunyi di tempat persembunyiannya.
Untuk pemeliharaan di akuarium dibutuhkan dasar berpasir halus dengan batu-batu dan vegetasi yang cukup melindungi. Botia tergolong ikan yang pendamai sehingga dalam akuarium dapat dicampur bersama ikan lain. Kualitas air yang baik untuk pemeliharaan botia india adalah pada suhu 26-30 0C dan pH 6.0-7.0.


3.17.2 Pemeliharaan Induk
Induk botia India berukuran 7-10 cm yang telah dipelihara selama 9 bulan dari ukuran 1,5 inci. Induk dipelihara dalam akuarium berukuran  dengan ketinggian air 35 cm. Induk dalam tiap akuarium berjumlah 17 ekor, antara induk jantan dan betina diletakkan dalam satu akuarium. Akuarium dilengkapi dengan pipa PVC berdiameter 3 inci sebagai tempat persembunyian botia.
Pakan diberikan sebanyak tiga kali sehari secara ad libitum mulai pukul 08.00, 12.00, dan sore hari pada pukul 17.00. Pakan yang diberikan adalah chu merah (Chironomus sp), sedangkan pemberian cacing sutra dilakukan sore hari sebagai cadangan makanan pada malam hari.

2.17.3 Perangsangan Pematangan Gonad
Pemijahan dilakukan dalam akuarium ukuran cm dengan ketinggia air 35 cm. Sebelum pemijahan dilakukan pemilihan induk. Pemilihan induk  dilakukan pada pagi hari dengan tujuan didapatkan induk yang benar-benar matang gonad. Induk dipuasakan dahulu untuk menghindari kesalahan dalam penyeleksian terutama untuk induk  betina. Selain untuk penyeleksian tujuan lain yaitu untuk memisahkan induk jantan dengan betina.  Perbedaan jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran dan bentuk tubuh, untuk jantan pada umur yang sama mempunyai ukuran yang lebih kecil bagian perut langsing dan tidak melebar, pada betina tubuh lebih besar pada umur yang sama dan perut lebih lebar.
Botia india termasuk ikan yang belum bisa dipijakan secara alami sehingga harus dilakukan perangsangan ovulasi, salah satu cara dengan penyuntikan. Setelah dilakukan seleksi maka induk ditampung dalam ember yang terpisah dan diberi aerasi. Sebelum dilakukan penyuntikan, induk ditimbang untuk mengetahui dosis yang akan digunakan. Sebelum ditimbang induk, induk dibius dengan minyak cengkeh dosis sebanyak 1 ppm.
Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali, penyuntikan pertama dilakukan pada sore sekitar pukul 17.00 WIB sedangkan penyuntikan kedua dilakukan pada pukul 4 jam setelah penyuntikan pertama. Hormon yang digunakan adalah Ovaprim dengan dosis penyuntikan sebanyak 0.5 ml/kg induk. Sebelum disuntik induk kembali dibius untuk memudahkan dalam penyuntikan. Penyuntikan dilakukan secara intra muscular pada bagian punggung induk dengan sudut 45 0

3.17.4 Pemijahan
Setelah penyuntikan induk ditebar dalam akuarium pemijahan dengan perbandingan jantan : betina adalah 3 : 1. Pemijahan berlangsung secara alami, artinya setelah disuntik induk dibiarkan tanpa dilakukan striping. Pemijahan berlangsung, biasanya terjadi 4-6 jam setelah penyuntikan kedua.

3.17.5 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva
Setelah pemijahan, induk diangkat dan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan induk, sedangkan telur dibiarkan dalam akuarium pemijahan. Sifat telur botia india adalah melayang dalam kolom perairan dan langsung mengembang saat bersentuhan dengan air. Telur yang dibuahi adalah transparan dengan inti yang juga transparan. Sedangkan telur yang tidak dibuahi akan berwarna putih keruh. Pada suhu 26-27 0C telur akan menetas setelah 15-17 jam.
Larva dipelihara dalam akuarium pemijahan, hal ini dsilakukan untuk mengurangi resiko kematian pada larva. Larva yang baru menetas berukuran sekitar 2 mm, transparan, melayang-layang dikolom air dan bergerak mengikuti arus air.

3.17.6 Pemberian Pakan
Larva mulai diberi pakan pada umur 2 hari dengan suspensi kuning telur yang telah direbus. Pemberian dilakukan dengan meremas kuning telur dengan kain berserat halus. Pemberian kuning telur jangan terlalu banyak karena akan mengakibatkan  air menjadi  keruh dan kandungan amoniak meningkat. Setelah larva berumur 5 atau 1 minggu, pemberian kuning telur dapat dicampur dengan Artemia. Pemberian kuning telur dihentikan jika larva sudah benar-benar dapat memakan Artemia. Untuk mengetahui waktu yang tepat dalam pemberian Artemia setelah kuning telur dilihat dari larva apabila telah menempel di dinding akuarium, maka larva sudah siap untuk memakan Artemia.
Pada umur dua minggu larva sudah dapat diberikan cacing sutra yang dicacah halus. Pada awal pemberian cacing sutra masih dicampur dengan Artemia, sampai larva benar-benar dapat memakan cacing sutra.  Satu minggu kemudian benih disamping cacing sutra yang dicacah diberikan juga cacing sutra yang tidak dicacah.

3.17.7 Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pertama kali dilakukan dengan menyiphon dasar akuarium. Penyiphonan dilakukan pertama kali dilakukan pada saat umur larva satu minggu. Air yang keluar dari selang sifon disaring guna menghindari larva yang lolos ikut terhisap pada waktu penyiphonan. Untuk selanjutnya penyiphonan dilakukan tiga hari sekali atu tergantung kondisi media pemeliharaan. Air yang terbuang pada saat peyifonan diganti dengan air yang baru yang telah ditampung dalam tandon.


3.17.8 Pendederan
Pendedera ikan botia biasanya disertai dengan penjarangan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan menghasilkan benih siap jual berukuran 1,5 inci. Penjarangan dilakukan dengan menyortir ikan berdasarkan ukuran yang kemudian ikan yang berukuran sama diletakkan dalam satu akuarium berukuran cm dengan kepadatan 1 ekor/ liter. Kegiatan ini dilakukan pertama kali saat benih berumur 20 hari. Benih disortir berdasarkan dua ukuran yaitu besar sekitar 1,5 cm dan kecil kurang dari 1 cm.
Setelah dilakukan penjarangan maka benih dipelihara dan diberi pakan sebanyak tiga kali sehari sampai kenyang. Pakan yang diberikan berupa cacing sutra. Agar ikan lebih nyaman maka pada dasar akuarium diletakkan pipa paralon berukuran 3/­­4 inci sebagai tempat persembunyian. Pemeliharan dilakukan sampai ikan berukuran 1,5 inci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar